Sabtu, 28 Juli 2007

Helm Bonus, Bukan Gratisan Lho !!!

Pas beli nasi bungkus, biasanya dibungkus pake kertas koran bekas, nah di koran bekas itu ada tulisan yang menarik nih.

Helm yang didapat saat beli motor baru bukan gratisan. Makanya, banyak konsumen segan menuntut mutu yang lebih baik. Takut dibilang, "dikasih gratis minta bagus?!" Akhirnya mereka maklum dan pasrah membeli helm baru yang pas.

"Option pemberian helm memang akan mempengaruhi harga jual di tingkat konsumen," jelas Suandi Widiarto, GM Marketing Roda Dua PT. Indomobil Niaga International.

Menurut Suandi, pabrikan bisa saja memberikan helm dengan kualitas yang sangat baik. "Namun, harga jual motor pasti akan naik. Disini kesulitannya." tambah Suandi.

Nah, dari situ timbul pertanyaan. Jika helm udah masuk biaya produksi, kenapa gak dikasih yang lebih bermutu? Selisih harga tinggal tambahkan ke harga jual.

Atau, tiadakan aja helm itu jika akhirnya tidak terpakai. Sebab pabrikan bisa menyisihkan duit miliaran rupiah jika tidak menyediakan helm.

Usulan ini masuk akal. Kenaikan harga jual motor baru dengan pemberian hel yang sebanding, mungkin bukan masalah. Tapi, keputusan tetap di tangan pembeli. "Mungkin untuk sebagian konsumen, kenaikan harga nggak papa. Tapi sebagian lain, selisih uang Rp. 10.000- 20.000 masalah." papar Herry Setianto.

"Sulit. Sebab memberi helm bagus, nggak pengaruh terhadap penjualan. Tapi, jika dihilangkan, kalah di promosi." tambah Sigit Sudibyo.

"Helm yang diberikan pabrikan juga sudah melewati Standar Nasional Indonesia." papar Suandi.

Tapi, boleh lah dipikirin. Kan bisa jadi bahan promosi.


dari : Motor Plus No. 379A/VII

Penat menggapai pekerjaan

Ini hanya pengalaman pribadi.

Terkadang, setiap hari aku penat dengan dengan rutinitas harian. Bangun, kerja, makan, tidur, bangun, kerja, makan, tidur dan seterusnya. Seperti manusia biasa lainnya kepenatan akan terjadi. Mengapa ? manusia adalah makhluk yang paling cepat bosan. Tidak mampu untuk menahan hal yang sama dalam waktu lama.

Bagaimana caraku menyikapinya ? Huh, ternyata gampang! Hal yang paling mudah adalah membalik urutan kejadian (bangun, kerja, makan, kerja, tidur) menjadi (kerja, tidur, bangun, kerja, makan). Kenapa makan menjadi bagian paling terakhir. Karena untuk mencapai tingkatan makan, aku harus menyelesaikan dahulu semua pekerjaan tersebut.

Alhasil, aku tidak bosan lagi dengan rutinitas. Walau terkadang bagi orang lain terlihat menjenuhkan, tapi inilah hidup yang tertera dalam mimpi-mimpiku. Bagian yang tak terpisahkan dari hasil mimpi itu sendiri

Akhirnya terjadi juga.

Setelah aku diam, tak berkata dengan blog. Aku kembali. Mensyaratkan apa yang aku dapatkan dari inspirasiku dalam impianku. Tertulis di lembar-lembar postingan. Aku belum terbangun, aku kembali lagi. Aku akan tetap ada disini, tertuang dan tertulis sendiri. Menginspirasikan semua hal.